MAKASSAR — Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) resmi menutup kegiatan Daurah 10 Hari Menghafal Al-Qur’an yang digelar di Sekretariat PP LIDMI, Jalan Karunrung Raya No. 17, Makassar, pada Rabu, 4 Februari 2026.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program pembinaan Ramadan ini dihadiri oleh Ketua Umum PP LIDMI Andi Muhammad Shalihin, S.K.M., M.K.M. dan Sekretaris Jenderal PP LIDMI Bayu Pratama Syam, S.Kom., serta diikuti oleh para peserta daurah, muhafidz (pembimbing hafalan), dan panitia penyelenggara.
Program daurah yang berlangsung selama sepuluh hari ini menghadirkan pembinaan intensif menghafal Al-Qur’an bagi mahasiswa dan generasi muda. Para peserta mendapatkan pendampingan langsung dari muhafidz untuk memperkuat hafalan sekaligus membangun kedekatan spiritual dengan Al-Qur’an.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PP LIDMI Andi Muhammad Shalihin, S.K.M., M.K.M. menegaskan bahwa kebangkitan peradaban Islam selalu lahir dari generasi yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an.
“LIDMI meyakini bahwa kebangkitan peradaban Islam selalu dimulai dari generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Karena itu, gerakan dakwah kampus tidak hanya membangun aktivisme, tetapi juga melahirkan generasi pemuda penjaga Al-Qur’an yang kelak menjadi fondasi peradaban. Melalui program seperti daurah ini, LIDMI ingin menegaskan bahwa Al-Qur’an harus kembali menjadi poros pembinaan dan arah perjuangan umat,” ujarnya.
Salah satu muhafidz yang mendampingi peserta selama program berlangsung menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diberikan selama kegiatan berlangsung. Ia menuturkan bahwa perjalanan menuju lokasi daurah setiap harinya membutuhkan pengorbanan, mulai dari jarak yang cukup jauh, kemacetan di jalan, hingga kondisi hujan yang terkadang harus dihadapi.
Namun demikian, menurutnya semua pengorbanan tersebut menjadi bagian dari perjuangan dalam dakwah Al-Qur’an.
“Perjuangan menghafal Al-Qur’an tidak berhenti di program ini saja. Menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan hingga akhir hayat. Yang kita kejar bukan hanya kuantitas hafalan, tetapi kualitasnya, yakni bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkan hafalan tersebut,” ungkapnya.
Kesan mendalam juga disampaikan oleh salah satu peserta daurah, Abdullah Mukhlis. Ia mengaku bersyukur karena melalui program ini dapat kembali menghidupkan hafalan yang sempat lama ditinggalkan.
“Alhamdulillah dengan adanya daurah 10 hari ini saya bisa kembali mendapatkan hafalan yang sempat hilang. Saya berhasil menghafal kembali tiga juz dan merasakan kembali semangat menghafal bersama teman-teman,” ujarnya.
Ia juga mengenang salah satu momen yang paling berkesan selama kegiatan berlangsung, yakni ketika listrik padam pada hari pertama kegiatan. Meski demikian, para peserta tetap melanjutkan aktivitas membaca dan menghafal Al-Qur’an.
“Walaupun lampu mati, kami tetap membaca dan menghafal Al-Qur’an. Itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya,” katanya.
Peserta lainnya, Darmawan Setiawan, S.Kom., juga menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman baru dalam proses belajar menghafal Al-Qur’an secara intensif.
“Awalnya saya sangat antusias ketika mengetahui informasi tentang daurah ini. Selama sepuluh hari, saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru tentang bagaimana menghafal Al-Qur’an bersama teman-teman,” tuturnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk tetap semangat dalam menghafal Al-Qur’an meskipun tidak sedang mengikuti program khusus seperti daurah.
“Bagi teman-teman yang mungkin belum terbiasa menghafal Al-Qur’an, tetaplah semangat dan optimis untuk terus belajar menghafalnya, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan,” ujarnya.
Melalui program pembinaan seperti daurah menghafal Al-Qur’an ini, LIDMI berharap dapat terus melahirkan generasi muda yang berilmu, berakhlak, serta memiliki kedekatan kuat dengan Al-Qur’an sebagai fondasi dalam membangun peradaban Islam di masa depan.