Makassar, 27 Maret 2026 — Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) melalui Pimpinan Pusat menggelar kegiatan Tabligh Akbar dan Silaturahmi Nasional pada Jumat (27/3/2026) pukul 20.30 WITA secara daring melalui Zoom dan YouTube. Kegiatan ini mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Mengokohkan Langkah Dakwah” sebagai upaya memperkuat solidaritas dan semangat perjuangan dakwah di kalangan mahasiswa di tengah dinamika zaman.
Acara ini menghadirkan Ustadz Ridwan Hamidi, Lc., M.A., M.PI., yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030, sebagai pemateri utama. Sementara itu, sambutan disampaikan oleh Shohib Muhammad Faisal Fathori, S.Kel., selaku Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat LIDMI sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Advokasi LIDMI. Kegiatan ini dipandu oleh Shohib Nasrul, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Pimpinan Wilayah LIDMI Sulawesi Selatan.
Dalam sambutannya, Shohib Muhammad Faisal Fathori menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang terus dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dalam memperkuat jamaah LIDMI di tengah arus perubahan yang cepat.

Ia menjelaskan bahwa dinamika zaman kerap membuat para aktivis dakwah berada pada titik jenuh, sehingga diperlukan ruang-ruang penguatan untuk menjaga semangat dan komitmen.
“Kegiatan ini adalah bagian dari upaya kita untuk terus menguatkan jamaah, terlebih di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Momentum ini diharapkan menjadi ruang untuk saling menguatkan kembali semangat dan komitmen dalam perjuangan dakwah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa aktivitas dakwah di LIDMI telah menjadi bagian dari way of life bagi setiap kader. Karena itu, kehadiran dalam forum dakwah tidak hanya dimaknai sebagai undangan biasa, melainkan sebagai bagian dari panggilan perjuangan.
“Undangan hadir dalam kegiatan ini bukan sekadar panggilan biasa, tetapi panggilan jihad. Kehadiran kita malam ini adalah bukti komitmen kita karena Allah untuk terus terlibat dalam dakwah,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh kader untuk terus memperbaiki niat dan menjaga komitmen dalam mengemban amanah dakwah.
“Mari kita cintai amanah ini, kuatkan diri untuk berkomitmen, dan berbahagialah karena Allah masih menginginkan kita untuk terlibat dalam perjuangan ini,” pungkasnya.
Ukhuwah sebagai Pilar Utama Kekuatan Dakwah
Dalam sesi penyampaian materi, Ustadz Ridwan Hamidi, Lc., M.A., M.PI., menekankan bahwa kekuatan dakwah sangat ditentukan oleh kokohnya ukhuwah dan soliditas jamaah.

Ia menyampaikan bahwa konsolidasi dan semangat amal jama’i merupakan elemen penting dalam menjaga keberlangsungan gerakan dakwah. Pertemuan rutin, koordinasi, dan musyawarah, menurutnya, harus dimaknai sebagai bagian dari perjuangan, bukan sekadar aktivitas formal.
“Setiap panggilan untuk berkumpul dan bermusyawarah harus kita maknai sebagai panggilan jihad, bukan sekadar pesan yang lewat di grup,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ukhuwah Islamiyah bukan sekadar ikatan emosional, melainkan ikatan spiritual yang lahir dari keimanan. Ia merujuk pada firman Allah “innamal mu’minuna ikhwatun” sebagai landasan bahwa persaudaraan adalah konsekuensi dari iman.

Menurutnya, tanpa iman, persaudaraan akan mudah rapuh. Namun, dengan iman yang kuat, perbedaan pendapat dan dinamika organisasi dapat disikapi dengan bijak tanpa merusak kehormatan sesama.
“Ukhuwah itu bukan sekadar kedekatan perasaan, tetapi ikatan iman. Ketika iman menjadi dasar, maka perbedaan tidak akan merusak persaudaraan,” jelasnya.
Untuk memperjelas makna ukhuwah, ia mengilustrasikan jamaah seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan (kal bunyan), di mana setiap individu memiliki peran berbeda namun tetap terhubung dalam satu tujuan. Selain itu, ukhuwah juga diibaratkan seperti satu tubuh (al-jasad) yang saling merasakan.
“Jika satu bagian merasakan sakit, maka bagian lain turut merasakannya. Begitulah ukhuwah yang seharusnya terbangun dalam dakwah,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan langkah-langkah praktis dalam merajut ukhuwah, di antaranya menebarkan salam, memenuhi undangan, membangun budaya saling menasihati, serta saling memaafkan.

Menurutnya, organisasi dakwah bukanlah kumpulan manusia sempurna, melainkan ruang untuk bertumbuh bersama dalam keterbatasan.
“Jangan menunggu sempurna untuk tetap bersama. Justru dalam keterbatasan itulah kita saling melengkapi,” tuturnya.
Di akhir penyampaiannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga integritas niat dalam berdakwah agar tidak sekadar menjadi rutinitas atau penggugur kewajiban.
“Ketika orientasi dunia kita nol dan orientasi akhirat kita seratus persen, maka ukhuwah akan menjadi kuat dan penuh keberkahan,” pungkasnya.

Sebagai penutup, kegiatan ini juga menjadi momentum sosialisasi rencana Muktamar LIDMI yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan April mendatang sebagai bagian dari estafet perjuangan dakwah mahasiswa di Indonesia.
Medikom PP Lidmi
















































