Oleh: Bayu Pratama Syam
Lidmi.or.id – Marilah kita sedikit mundur ke 14 abad yang lalu, tentang sebuah peristiwa yang mengguncang keimanan para penduduk Mekkah pada waktu itu. Yang kafir semakin kafir, dan yang beriman mulai goyah keimanannya. Peristiwa tersebut adalah Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebuah peristiwa yang berlangsung hanya semalam, tetapi menyisakan banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik di dalamnya. Bagi kaum kafir Quraisy, peristiwa ini dianggap tidak rasional, sehingga mereka menjadikannya bahan tertawaan, bahkan menyebarkannya dengan gembira untuk meragukan keimanan kaum Muslim.
Di tengah goncangan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sosok yang paling teguh keimanannya. Setelah mendengar kabar Isra Mi’raj Rasulullah, ia segera mengumumkan kepercayaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Meskipun kabar Isra Mi’raj ini awalnya disampaikan oleh Abu Jahal—seorang penentang dakwah Islam—Abu Bakar tidak meragukannya. Ia dengan yakin berjalan menemui Rasulullah dan sepanjang perjalanannya, ia terus menyebarkan kabar tersebut kepada kaum Quraisy.
Abu Bakar bahkan membuat pernyataan yang menggambarkan betapa kokohnya imannya, “Jika wahyu saja turun dari langit, maka dengan mudah manusia pun bisa diangkat ke langit sebagaimana turunnya wahyu.” Dalam pernyataan lain, ia mengatakan, “Jika aku melihat sebuah tembok berwarna putih, kemudian Rasulullah mengatakan tembok itu berwarna hitam, maka aku akan mengingkari mataku dan mengatakan bahwa tembok itu berwarna hitam.” Ini adalah bukti nyata keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiallahu ‘anhu, yang membuktikan bahwa keyakinannya pada Rasulullah tidak tergoyahkan oleh akal atau logika semata.
Dalam hal ini, Abu Bakar menghidupkan firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
— (QS. Al-Hujurat: 15)
Setelah Abu Bakar meyakini kebenaran Isra Mi’raj, ia tidak berhenti di sana. Ia berpikir tentang cara membuktikan peristiwa ini kepada masyarakat Makkah yang sangat rasionalis. Ia memulai dengan memanggil petinggi-petinggi Quraisy yang pernah mengunjungi Masjidil Aqsa, tempat di mana Rasulullah melakukan shalat bersama para nabi dalam peristiwa Isra Mi’raj. Setelah Rasulullah menjelaskan secara mendetail tentang Masjidil Aqsa, barulah para petinggi Quraisy mengakui kebenaran perkataan Rasulullah.
Setelah itu, Abu Bakar memanggil para kafilah dagang yang sempat kehilangan unta di tengah perjalanan. Kafilah tersebut bersaksi bahwa ada seseorang yang membantu mereka menemukan unta mereka yang hilang. Peristiwa ini semakin membuat masyarakat Makkah tertegun dan tidak bisa mengingkari kebenaran yang dihadirkan.
Firman Allah menegaskan hal ini:
“Dan kebenaran itu datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
— (QS. Al-Isra: 81)
Melalui usaha cerdas Abu Bakar, iman para sahabat Rasulullah kembali meningkat. Abu Bakar tidak hanya mempercayai sepenuhnya peristiwa Isra Mi’raj, tetapi ia juga mencari cara agar penduduk Makkah dapat memahami kebenaran tersebut melalui pendekatan yang mereka terima—yaitu rasionalitas.
Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Jauzi, Abu Bakar termasuk di antara orang-orang cerdas dalam sejarah Islam. Dalam karyanya, Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa yang paling cerdas adalah para nabi, kemudian para sahabat Rasulullah, dan generasi selanjutnya. Dengan kecerdasannya, Abu Bakar selalu membantu Rasulullah dalam berbagai urusan, termasuk dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi umat Islam pada masa itu.
Keimanan yang kokoh dan kecerdasan Abu Bakar Ash-Shiddiq inilah yang membuat namanya terus dikenang hingga hari ini di seluruh penjuru dunia. Sosoknya menjadi teladan dalam menyeimbangkan antara keimanan yang kuat dan pendekatan rasional dalam menyelesaikan masalah.
Wallahu a’lam.



















































