MAKASSAR – Ketua Umum Pimpinan Pusat LIDMI, Asrullah,S.H.,M.H. sebut menyiapkan keluarga yang kuat menjadi modal awal membangun sebuah peradaban.
“Dari Nabi Ibrahim kita belajar bahwa jika ingin membangun sebuah peradaban yang cemerlang, maka kita harus memulainya dari
membangun keluarga yang kuat. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa hal paling fundamental dan modal awal menyiapkan lembaga paling mendasar dalam peradaban manusia yang bernama keluarga,” kata Asrullah saat khutbah Idul Adha di daerah Rappokalling, Kamis (29/06/2023).
Ayah dari dua anak itu menegaskan bahwa segala pelanggaran pada aturan Allah akan melemahkan keluarga.
“Semua bentuk penyimpangan dan pelanggaran terhadap panduan dan fitrah yang Allah tetapkan, secara pasti berefek melemahkan pertahanan sebuah keluarga, jika dibiarkan akan meruntuhkan keluarga itu sendiri. Lemah dan runtuh keluarga meruapakan pertanda awal sebuah peradaban akan hancur dan runtuh pula,”tegasnya.
Menurut Asrullah, Itulah sebabnya mengapa kita akan selalu berdiri di garis terdepan memerangi penyakit-penyakit penyimpangan fitrah seperti LGBT di negeri ini. Memerangi dan membasmi fenomena LGBT adalah
bentuk cinta kepada keluarga, dan juga cinta kepada Tanah Air dan Negeri ini.
Asrullah menambahkan bahwa ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hak asasi
manusia. Ini adalah tentang kepedulian kita terhadap keluarga dan
negeri ini.
“Karena keluarga macam apa yang akan lahir dari hubungan sesama jenis? Melainkan akan mendatangkan malapetaka dan musibah baginya serta masyarakat secara meluas,” ujarnya.
Asrullah juga memaparkan, dari Nabi Ibrahim kita juga belajar bahwa sebuah keluarga
hanya bisa menjadi keluarga yang kuat ketika pijakan hidup mereka adalah Tauhid kepada Allah.
“Ketika penghambaan dan ketaatan hanya dipersembahkan kepada Allah, tidak kepada selain Allah. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang memfokuskan hidup dan matinya hanya kepada Allah, tanpa pernah menyekutukanNya dengan siapapun dan apapun,”paparnya.
Dia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah al-Hajj ayat ke-26.
“Dan ingatlah wahai Muhammad, ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah, Kami berpesan padanya: Janganlah engkau
menyekutukanKu dengan apapun, dan sucikanlah Rumah-Ku ini untuk orang-orang yang akan melakukan thawaf, berdiri mengerjakan shalat, serta ruku’ dan sujud.”
Asrullah kemudian menasehatkan bahwa dari Nabi Ibrahim kitabelajar, jika memimpikan anak yang shalih, maka jadilah terlebih dahulu sebagai hamba Allah yang shalih.
“Jika ingin mendapatkan anak-keturunan yang shalih, jadilah lebih dahulu sebagai anak yang shalih untuk kedua orang tua kita. Jika memimpikan anak yang shalih, maka berusahalah menjadi pribadi yang shalih, meski belum bisa sempurna dalam keshalihan,” ucapnya.
Terakhir Asrullah mengajak untuk mengambil pelajaran dari sejarah kehidupan seorang Ibrahim ‘alaihissalam. Sejarah yang mengajarkan penghambaan dan keshalihan sejati.
“Sejak muda, ia tumbuh sebagai pemuda yang teguh menegakkan Tauhid. Sendiri menghadapi kaumnya yang mempertuhankan berhala, hingga beliau dihukum bakar hidup-hidup karena keteguhannya mengesakan Allah dan memerangi kesyirikan,” pungkasnya.
Editor: LMCnewsroom


















































